Pada saat adzan subuh
berkumandang,Dimas sudah bangun dari tidurnya.Ia bergegas mengambil air wudhu
lalu solat.Setelah itu Dimas mempersiapkan pelajaran untuk pagi ini.
Waktu
sudah menunjukan pukul 05.00.Ia menyiapkan diri untuk berangkat sekolah.Ibu
Dimas sedang menyiapkan sarapan untuk Dimas.Setelah selesai sarapan,dimas
berpamitan.
Saat
tiba di sekolah Dimas dihadang Dodi dan kawan – kawan di depan pintu kelas.
“Eh,Lu
Mas mana uang yang lo janjiin?”suara Dodi meninggi
“Emm..... maaf,Dod aku belum punya uang,”jawab
Dimas memelas
“Alah
bilang aja kalo Lo gak mau ngasih.”
“Yaudah
deh besok aku kasih.”
“Nah...
gitu dong,itu baru namanya temen gue.”
Dimas
hanya tersenyum dan masuk ke kelas.setelah itu bel pun berbunyi.
Saat
pelajaran Bahasa Indonesia,guru mapel tersebut tidak berangkat.keadaan kelas
saat itu sangat ramai.Dimas ijin pada ketua kelas untuk ke kamar mandi.Setelah
Dimas pergi,Dodi menghampiri meja Dimas.Dia menyembunyikan dompet milik Okta di
dalam tas Dimas.
“Rasain
Lo Mas,pasti Lo yang kena.” Dodi tersenyum sinis.
Saat
Dimas kembali dari kamar mandi Ia duduk dengan tenang.
Bel
istirahat berbunyi,Okta mencari cari dompetnya di tasnya tapi tidak ketemu.Okta
menanyai teman teman kelasnya satu persatu.Semua orang mengatakan tidak
tau.Dodi berceletuk.
“Mengapa
tidak ngecek tas mereka semua satu per satu.”
“Betul
itu.”
Okta
akhirnya menyetujui saran tersebut.semua orang meletakkan tasnya di atas
meja.Okta mengecek tas mereka satu persatu.setelah semua diperiksa hanya kurang
satu tas lagi,yaitu tas milik Dimas.Saat okta menggeledah tas Dimas,dia
menemukan dompetnya.
“Loh
Mas,ini kan dompet aku.kenapa bisa ada di tasmu?” Okta tidak percaya.
“Loh
kok bisa ada di tasku?”jawab Dimas kaget.
“Kamu
ngambil dompetku kapan?”
“Aku
gak ngambil.Aku tadi ke kamar mandi terus duduk lagi kok.”
“Alah
ngaku aja deh Lu,jangan seperti udang di balik batu,pura pura tidak tahu,” Dodi
berceletuk.
“Aku
memang gak tahu apa apa,”jawab Dimas.
“Jangan
sok suci deh Lu.”
“Betul,”jawab
teman teman Dodi kompak.
“Ngaku
aja deh,daripada masalah tambah panjang?”
“Sudah
sudah,ini masalahku sama Dimas enggak ada kaitanya sama kamu Dod,”jawab Okta
sedikit kesal.
Bel
masuk pun berbunyi,mereka semua kembali ke tempat duduk mereka masing
masing.Dodi dan kawan kawan tersenyum sinis.Sedangkan Dimas masih bingung apa
yang baru saja terjadi.
Bel
pulang pun berbunyi.Semua anak-anak pulang
menuju rumah mereka masing-masing.Dimas dan Okta masih belum
pulang.mereka masih membahas dompet itu tadi.
“Mas,aku
gak percaya kalau kamu yang ngambil dompet aku.”
“Aku
memang gak ngambil dompet kamu,sumpah.”
“Aku
percaya sama kamu,tapi kalau bukan kamu yang ngambil terus siapa yang ambil?”
“Entah,aku
aja gak tau apa-apa,tiba-tiba dompetmu ada di tasku.”
“Oh....
apa mungkin yang ngambil itu Dodi?”
“Jangan
nuduh sembarangan kamu Ta.”
“ Soalnya tadi dia yang
pingin banget nggledah semua tas temen-temen.”
“Ya mungkin juga sih.”
“Besok
aku bakal tanya Dodi.”
“Tapi
kamu tanyanya jangan sampai dia tersinggung.”
“Oke
deh,tanyanya gimana ya?”
“Ya
terserah kamu aja.Yaudah yuk pulang,”ajak Dimas.
“Yuk,bareng
ya.”
“Ok.”
Setelah
sampai di rumah,Dimas beres-beres.Dia masih kepikiran dompet Okta lagi.Ibu
Dimas heran kenapa anaknya melamun dari tadi.Ibu Dimas bertanya.
“Dimas
kamu kenapa nak?”
“Enggak
apa-apa bu,”jawab Dimas
“Nak,kamu
kalo ada masalah ngomong aja sama Ibu,mungkin Ibu bisa bantu.”
“Gini
Bu,tadi Aku di sekolah dituduh sama temen-temen ngambil dompetnya Okta.”
“Lah
kok bisa kamu dituduh gitu?”
“Aku
juga enggak tahu Bu,tiba-tiba dompetnya ada di tasku.”
“Terus
gimana Oktanya?”
“Okta
tetap gak percaya kalo Aku yang ngambil dompetnya.”
“Yaudah
Nak,enggak usah dipikirkan,toh juga Okta gak percaya kalo kamu yang ngambil
dompetnya.”
Di hari berikutnya,Okta
menghampiri Dodi untuk bertanya baik-baik.Tapi,saat ditanya Dodi terlihat
sangat ketakutan.Dodi mengakui kalau dia yang memasukkan dompet Okta ke tas
Dimas.
“Kenapa kamu ngelakuin
hal begitu?”tanya Okta.
“Aku iri sama Dimas
karena dia selalu menjadi yang terbaik.Jadi aku ingin menjatuhkannya.”
“Lah kan bisa dengan
cara yang baik,kenapa kamu memilih cara yang seperti itu?”
“Akh.... sudah lah
biarin aku mencari jalanku sendiri untuk menjatuhkan Dimas.Kamu tidak usah ikut
campur urusanku dengan Dimas,”kata Dodi agak kesal.
Akhirnya Dodi pergi
meninggalkan Okta.Okta menemui Dimas untuk membicarakan apa yang sudah ia
ketahui.
“Mas memang benar,kalo
Dodi yang memasukkan dompetku ke dalam tasmu.”
“Apa alasan dia
melakukan itu?”
“Katanya dia iri denganmu
Mas,jadi kamu ingin dijatuhkan olehnya.”
“Oh.. begitu,kenapa dia
gak langsung bilang sama aku aja?”
“Ya mungkin,dia malu
jika harus mengagumi kamu.”
“Yasudahlah biarkan
dia,nanti kalo sudah akan berhenti sendiri.”
Hari demi hari,Dimas
selalu kena masalah karna ulah Dodi.tapi Dimas diam saja melihat tingkah Dodi
supaya Dodi tidak kena masalah.(Biarkan aku yang mendapat masalah agar Dodi
tidak malu)batin Dimas.
posting oleh : sumi purwanti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar